Belajar Dari Ibu Ita Mulyani Keluarga Penerima Manfaat PROGRAM KELUARGA HARAPAN Menjadi Keluarga Mandiri

Oleh | Pada Oktober 16, 2018

Belajar Dari Ibu Ita Mulyani Keluarga Penerima Manfaat PROGRAM KELUARGA HARAPAN Menjadi Keluarga Mandiri Menjadi pendamping PKH adalah impian setiap orang, khususnya saya. Saya adalah pendamping PKH kecamatan Natar kabupaten lampung Selatan. Saya banyak belajar, belajar dari mereka (Keluarga Penerima Manfaat) yang selalu bersyukur walau banyak keterbatasan. Mereka (Keluarga Penerima Manfaat) yang selalu tersenyum walau banyak rintangan menghadang. Mereka (Keluarga Penerima Manfaat) yang selalu penuh semangat, walau hati sebenarnya sudah lelah. Kini, mereka lah yang menjadi penyemangat hidup saya. Saya selalu bersyukur, punya mereka yang tidak pernah pantang menyerah. Walau terkadang saya sedih, terharu, dan malu melihat kegigihan mereka. Malu, karena dengan keterbatasan dan ujian yang saya hadapi tidak sebanding dengan keterbatasan dan ujian yang mereka alami. Tetapi, mereka tidak pernah mengeluh, tidak pernah pantang menyerah. Lain hal nya dengan saya yang menghadapi ujian sedikit dari Allah saja saya sudah mengeluh tidak karuan, bahkan sampai menyalahkan yang memberi ujian.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan setelah menjadi pendamping PKH, salah satunya adalah lebih banyak bersyukur. Mereka telah berhasil membuat saya tertunduk malu. Kala itu, saya mengenal sesosok perempuan bernama ibu Ita Mulyani yang kini tinggal di dusun IX tanjung rejo II rt/rw 40/15 Desa Natar Kec Natar Kab Lampung Selatan. Ibu Ita adalah seorang ibu muda yang pandai dan sangat bersahabat. Dahulu saat pertama kali mendapatkan bantuan PKH beliau sangat bersyukur dan bahagia karna dapat membantu perekonomian keluarganya, khususnya untuk anak-anak nya sekolah. Ibu Ita dan suami menempati rumah yang sangat tidak layak huni. Dinding rumahnya hanya diselimuti oleh anyaman bambu (geribik), berlindung saat panas dan hujan dengan genting yang sudah rapuh dan pecah jelas saja saat hujan banyak air yang jatuh membasahi rumah mereka dan saat panas mereka merasakan kepanasan. Namun yang saya ingat jelas saat itu adalah keluarga ibu Ita tetap bahagia. Walaupun dengan kondisi yang seperti itu ibu Ita dan suami tidak pernah pantang menyerah. Suami ibu ita hanya bekerja sebagai buruh bangunan membuat Ibu Ita sebagai ibu rumah tangga memutar otak untuk membantu suami nya memenuhi kebutuhan keluarga nya. Dari mencoba berjualan sayuran, hingga berjualan mainan anak-anak iya tekuni. Namun, tetap tidak bisa sepenuhnya membantu perekonomian keluarganya.



Hingga akhirnya dengan keahlian yang beliau miliki, yaitu memasak. Beliau mencoba hal baru dengan berbisnis kuliner. Dan tidak disangka oleh beliau dan keluarga, bisnis yang dia mulai dari nol yang beliau mulai dari kegigihan dan ketulusan tersebut membuahkan hasil. Dari rumah yang sangat tidak layak huni, kini ibu ita dapat merasakan rumah yang layak dan nyaman. Dari pontang panting mencari pundi-pundi rupiah, kini ibu ita tengah duduk manis menunggu rupiah yang datang. Saat ini beliau telah berhasil membangun usaha rumah makan yang cukup besar dan sangat ramai peminatnya. Dari hasil membuka usaha rumah makan itulah kini ia telah berhasil menjadi keluarga mandiri. Ia bersedia secara sukarela memutus bantuan PKH agar dapat dilimpahkan kepada masyarakat lain yang lebih membutuhkan.

Kesuksesan ibu Ita mulyani, bukan dengan mudah begitu saja beliau dapatkan. Perjalanan panjang, melewati kerikil-kerikil kehidupan dan banyak rintangan telah beliau lewati. Pahit getir kehidupan membuatnya kini lebih tangguh, lebih kuat, dan lebih banyak bersyukur, beliau percaya bahwa Proses tidak akan pernah menghianati hasil. Dan kini beliau membuktikannya, bahwa semua yang diusahakan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil yang baik. Sejatinya karena bantuan PKH (Program Keluarga Harapan) lah membuatnya tumbuh menjadi keluarga yang lebih produktif.

Saya sangat bangga dan sangat bersyukur sekali menjadi pendamping PKH. Saya bangga dapat mendampingi keluarga yang tumbuh dari keluarga belum sejahtera hingga menjadi keluarga sejahtera. Dan saya sangat bersyukur, dapat belajar dari kehidupan mereka sehingga dapat saya terapkan dikehidupan saya kini dan kehidupan saya yang akan datang untuk menghadapi berbagai rintangan hidup kelak. Senyum bahagia mereka adalah senyum bahagia kami para pendamping PKH. Kesuksesan mereka adalah kesuksesan kami para pendamping PKH. Pelajaran hidup yang tidak pernah saya dapatkan disekolah, pelajaran yang membuat kita lebih bersyukur dan tidak angkuh terhadap apa yang kita miliki.

Dari perjalanan hidup Ibu Ita Mulyani, Tuhan sedang mengajarkan kita, khusunya saya bahwa semua yang kita miliki adalah hanya sebatas titipan. Untuk yang sedang berada diatas, jangan lupa untuk menunduk kebawah, karena dibawah sana ada mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Dan yang saat ini masih berada dibawah, jangan lupa untuk terus maju menjemput kesuksesan tanpa henti. Semoga dari kisah ibu Mulyani ini bisa menginspirasi kita semua, baik yang muda maupun yang sudah tua, baik yang kaya maupun yang belum sejahtera, baik yang sedang bahagia maupun yang sedang dilanda kesedihan, dan untuk semua KPM PKH maupun Non PKH. Terimakasi ibu Ita Mulyani,Salam PKH.

Oleh NURHAYATI, S.Pd (PENDAMPING PKH KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN)

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Tags: , ,

Category: PKH Inspiration

Close