Graduasi Mandiri KPM Program Keluarga Harapan, Diana Membuka Usaha Laundry – Sukses Story

Oleh | Pada Juli 16, 2018

GRADUASI MANDIRI, DIANA MEMBUKA USAHA LAUNDRY dan ANAKNYA BEKERJA DI PT ANGKASA PURA Kota Banjarbaru, Kisah keberhasilan Diana Kusnarti keluar dari jeritan kemiskinan ini juga disampaikan pada saat Bimbingan Pemantapan SDM Pelaksana PKH tahun 2018 di G’Sign Hotel Banjarmasin pada Minggu, 3 Juni 2018,   Menyinggahi kawasan Kelurahan Syamsuddin Noor, mungkin bagi masyarakat Kota Banjarbaru Kawasan tersebut tidak asing dari Bandar Udara Syamsuddin Noor. Tak luput pula banyak penginapan maupun hotel yang berada di kawasan tersebut. Melihat lokasi strategis seperti ini membuat, Diana Kusnarti, membuka usaha laundry yang sekarang cukup dikenal oleh masyarakat sekitar, tak terkecuali penginapan maupun hotel di sekitar rumahnya (Jl Kasturi I) mempercayainya.


Pada tahun 2014, Diana Kusnarti memang merupakan seorang KPM PKH dengan komponen anak SMA dan apras dengan kondisi keluarga dimana tulang punggung keluarga yakni suami Diana hanya bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan tak menentu dan dirinya sendiri bekerja sebagai pengasuh anak tetangga dan buruh cuci. Kehidupan bagaikan roda yang terus berputar. Pada tahun 2016, anaknya yang duduk di bangku SMA lulus, dan melamar pekerjaan di PT Angkasa Pura. Dari ratusan peserta yang melamar, terpilihlah 3, salah satu diantaranya ialah anak dari Diana. Dengan kondisi gaji yang diterima anaknya minimal Rp 3.000.000,00/bulan membuat keadaan perekonomian keluarga Bu Diana pun beranjak naik.

Masih di tahun 2016 juga, Diana sangat mengingat kejadian dimana ia menerima hadiah sebuah mesin cuci dari gerak jalan 17 Agustus. “Aku dulu kan bantu-bantu nyuci ya, terus pengen banget buka laundry, tadinya mau kredit mesin cuci. Eh tapi pas aku ikut lomba 17an di RT aku dapet undian mesin cuci eh mba, aku nda nyangka.” Ucap Diana dengan logat Jawanya. Memanfaatkan hadiah yang diterima oleh Diana, maka mesin cuci itu ia manfaatkan dengan membuka usaha laundry. Dari usahanya tersebut, Diana mendapatkan penghasilan sekitar Rp 2.000.000 hingga Rp 3.000.000 setiap bulannya.



Azmirul Rufaida, Pendamping PKH Kelurahan Syamsuddin Noor, selalu menyampaikan bahwa “Anggap PKH ini sebagai tongkat bagi ibu-ibu sekalian. Artinya apa? Jika Ibu-ibu sedang jatuh, dan ada tongkat disana maka tongkat itu dapat Ibu gunakan untuk berdiri, kan? Tapi ketika Ibu-Ibu ternyata sudah dapat berjalan bahkan berlari otomatis Ibu sudah tidak memerlukan tongkat itu.” Ucap Azmirul, yang selalu ia sampaikan saat pertemuan kelompok atau kegiatan P2K2 berlangsung.

 


Saat waktu senggang, Diana menghitung total pengeluaran dan pemasukan untuk keluarganya. “Aku kan ada anak itu 3 mba. 1 udah kawin jadi udah bukan tanggunganku, anakku yang kedua yang kerja di bandara itu, nah 1 lagi anakku masih sekolah SD. Jadi yo aku hitung-hitung dari upah aku dititipi anak berapa, laundry berapa, dikasih anak berapa sama dikasih bapaknya berapa. Aku ngerasa udah cukup. Aku takut kalau masih nerima PKH ini karena aku maunya gantian gitu loh mba. Masih ada lah orang di bawahku ini.” terang Diana yang memutuskan untuk graduasi mandiri dari PKH pada tahun 2017 karena kondisi perekonomian keluarganya yang terus meningkat dan usaha laundrynya stabil.

Kisah keberhasilan Diana Kusnarti keluar dari jeritan kemiskinan ini juga disampaikan pada saat Bimbingan Pemantapan SDM Pelaksana PKH tahun 2018 di G’Sign Hotel Banjarmasin pada Minggu, 3 Juni 2018. Diharapkan pendamping Kota Banjarbaru dapat memotivasi KPM mereka untuk keluar jeritan kemiskinan ini dan Diana-Diana di Kota Banjarbaru khususnya terus bertambah.

Anggi Rizqika Ekaputri – Pekerja Sosial Supervisor PKH Kota Banjarbaru

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Tags:

Category: PKH Inspiration

Close