Jika Ilmu Adalah Tiang kehidupan maka FDS adalah Tiang PKH

Oleh | Pada Oktober 7, 2018

Semenjak direkrut hingga bulan sembilan ini, saya mengaku selalu mengadakan pertemuan  bulanan kelompok Keluarga Penerima Manfaat(KPM)  Program Keluarga Harapan (PKH). Jumlahnya ada 8 kelompok. Sebagai pendamping baru saya mencoba menyusun database termutakhirkan dari semua KPM yang ada. Jumlah KPM saya 80 KPM lama dan juga 135 orang KPM perluasan tahun 2017.

Pertemuan kelompok sangat membantu agar pendataan berkaitan dengan komponen PKH di dalam keluarga mereka benar-benar akurat. Mengingat sebentar lagi jumlah bansos PKH  tidak lagi flat. Selain itu pertemuan kelompok saya jadikan ajang untuk bertanya mengenai penyaluran bansos pangan mereka. Ada banyak jenis pengaduan yang saya terima. Diantaranya adalah KKS mereka yang saldo nya 0, KKS mereka yang tiba-tiba closed, KKS mereka yang tidak dapat melakukan pembelian padahal memiliki saldo hingga perbandingan beras yang tiap bulan makin baik. Diantara semua pengaduan, paling tidak poin terakhir adalah yang membuat bahagia. KPM saya khususnya, menyadari bahwa beras bantuan yang mereka terima mutunya semakin baik. Mereka sampai flashback ke beberapa tahun silam waktu beras yang mereka terima masih berkutu dan pirang. “Bu Silvi, kata seorang ibu, “Sekarang ini, makan nasi tanpa lauk saja rasanya sudah enak lo, berasnya bagus”.

Setelah BIMTAP SDM PKH yang dilaksanakan bulan April silam, saya sebagai pendamping lalu sadar bahwa pertemuan kelompok yang ditugaskan kepada pendamping minimal 1 bulan 1 kali ini ternyata bukan untuk pemutakhiran dan pengaduan saja. FDS Family Development Session atau yang di -Indonesiakan sebagai pertemuan peningkatan kemampuan keluarga haruslah didasari pada pemberian pengetahuan. Dengan pengetahuan yang diberikan itu kemudian diharapkan ada sebuah peningkatan kemampuan yang dialami ibu-ibu KPM PKH dalam menjalani kehidupan sehari hari di masyarakat.



Photo: Akhir Sesi Coaching FDS oleh Supervisor di Aula DInas Sosial Kota Jambi

“Ada 4 modul yang diharapkan dapat dikhatamkan oleh ibu-ibu pengurus KPM PKH. Mereka adalah modul pengasuhan dan pendidikan anak, modul pelatihan pengelolaan keuangan dan perencanaan usaha, Materi Kesehatan dan Gizi, Materi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Seksual” demikian korwil PKH Provinsi Jambi, Bapak Azhari membuka kelas bimtap kami untuk sesi pengenalan fungsi pendamping sosial di masyarakat.  Maka semenjak saat itu pertemuan kelompok saya laksanakan tidak hanya untuk mendata terjadinya perubahan data atau adanya masalah dalam penyaluran bansos tapi juga memberikan pengetahuan kepada ibu-ibu mengenai topik-topik yang dekat dengan mereka. Tapi jujur saja, yang saya sampaikan bukanlah modul FDS. Saya pernah bawakan materi “Bagaimana Cara Menangani Anak yang Kecanduan Gadget”, “Pola Asuh Anak Laki-laki dan Perempuan ternyata berbeda”, “Sosialisasi Keamanan Vaksin MR” (ketika di masyarakat teradi keraguan menvaksin anaknya). Semua materi ini saya sampaikan dengan metode ceramah dan diskusi.  Pernah juga kami para pendamping satu kecamatan kotabaru melaksanakan seminar kesehatan yang bekerja sama dengan sekolah tinggi ilmu kesehatan yang ada di Jambi. Itu mengenai pengolahan sampah dan juga gaya hidup sehat cegah diabetes.  Dan baru-baru ini kami secara tidak langsung mengingatkan kembali kepada ibu ibu bahwa kehadiran mereka dalam tumbuh kembang anak nya adalah sebuah kemewahan yang harus terus dilestarikan. Kami beri nama kegiatan tersebut Sabtu Bersama ibu sebagai momen peringatan hari anak.

Beruntungnya, Agustus silam, saya akhirnya mendapatkan coaching mengenai pelaksanaan FDS modul ekonomi. Sebenarnya waktu itu menunda-nunda pelaksanaan FDS sesuai modul, penyebabnya adalah karena saya kurang percaya diri. Saya belum pernah melihat bagaimana jalannya pertemuan FDS secara langsung. Saya perlu diberi contoh. Saya perlu diberikan modal untuk itu, saya perlu ini dan itu.Tapi kemudian, jika saya pikir kembali sekarang, alasan tidak percaya diri itu hanyalah mengada-ada. Segala materi dan proses telah ada di modul, dan dari membaca modul itu saja, saking detilnya, kita sudah dapat membayangkan bagaimana FDS ini akan berlangsung. Anggap saja ini adalah pengakuan taubat saya.

21 September lalu, hari besar itu datang. Selain melaksanakan kewajiban, saya tidak mau membuang waktu ibu-ibu demi pertemuan kelompok yang membahas hal-hal kecil. Modul-modul itu telah dibuat para ahli dan sangat aplikatif. Saya mesti menyampaikannya. Dua hari sebelum FDS saya ingat-ingat lagi bagaimana supervisor  kami, Ibu Mutia, menyampaikan modul dengan para pendamping berperan sebagai ibu-ibu KPM. Saya coba menuliskan ide-ide baru, karena inovasi diperbolehkan. Saya menuliskan kembali pernyataan-pernyataan yang berupa konklusi materi dengan kata-kata sendiri agar lebih mudah diingat.

Photo: Ibu-ibu sibuk mengelompokkan Kebutuhan dan Keinginan

Modul pegangan untuk KPM di Provinsi Jambi memang belum ada, yang bisa saya lakukan adalah menggandakan flipchart, poster, lembar kerja dan lembar studi kasus yang akan ditampikan dan dikerjakan oleh ibu-ibu KPM selama belajar.

Photo: Ibu-ibu KPM sedang asyik diskusi soal cerita

Kelompok satu ini berjumlah hampir 30 orang. Jika menggunakan laptop 14 inch dan sound sistem yang saya miliki, maka ketika pemutaran video, akan dapat membuyarkan  fokus ibu-ibu yang berteriak bilang “tidak kedengaran, tidak nampak” karena memang ruangan aula kantor lurah kami belum memiliki infokus dan sound sistem yang dapat tersambung ke laptop. Maka saya mengganti video pembuka dengan cara “story telling digabung ice breaker”. Saya meminta ibu ibu untuk main tangkap jari temanmu.  Setiap mendengar kata ‘uang’ dalam cerita saya, mereka akan mencoba menangkap telunjuk teman disamping mereka yang telah diletakkan di telapak tangan mereka, tapi dengan sigap pula harus menyelamatkan telunjuk mereka sendiri. Cerita yang saya ceritakan tentu saja kasus manajemen keuangan yang buruk yang dialami ibu Lili dan pak Ramli. Ingat mereka kan?. Cara ini cukup ampuh. Ibu ibu gembira dengan permainan ini. Namun mereka tetap fokus dengan cerita yang disajikan dan dapat menceritakan ulang mengenai cerita tersebut.

Kenapa tidak dilakukan dirumah KPM? saya meyakini bahwa situasi belajar harus diciptakan senyaman mungkin bagi pembelajar. Dalam modul ada beberapa soal berhitung yang perlu dikerjakan, maka mereka butuh meja untuk menulis. Aula kelurahan memiliki meja dan kursi yang mumpuni untuk kenyamanan belajar ibu-ibu. Tapi pada FDS kedua yang saya lakukan, kami melakukannya dirumah warga, sebab jadwal FDS bentrok dengan kegiatan kelurahan yang juga mengambil tempat di Aula. Ibu-ibu tetap semangat mendengarkan dan berdiskusi tentang materi.

Sore itu FDS berjalan lancar, setidaknya bagi saya pendamping sosial PKH. Di akhir sesi saya berikan pertanyaan inti dari materi-materi yang harus disampaikan. Misalnya, apa perbedaan kebutuhan dan keinginan, mengapa membuat anggaran belanja disamakan dengan lomba lari, sistem apa saja yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu dan beberapa pertanyaan lainnya.

Photo: FDS kedua dilakukan dirumah warga, karena Aula kantor lurah sedang dipakai acara.

Jauh dari yang saya khawatirkan sebelum pelaksanaan FDS, ibu-ibu KPM senang belajar. Mereka dengan semangat mengerjakan soal cerita tentang hitungan pendapatan dan pengeluaran. Saya harapkan ilmu yang didapatkan boleh jadi bekal untuk mereka dalam mengatur keuangan bulanan mereka sehari-hari.

Bagi teman-teman pendamping yang belum melaksanakan FDS hingga kini, yakinkan hati untuk mencukupi hak ibu-ibu KPM PKH. Jangan biarkan mereka graduasi sebagai penerima bantuan tanpa bekal dan ilmu yang cukup yang harusnya mereka dapatkan selama menjadi KPM. Semua meyakini bahwa FDS adalah ruh Program Keluarga Harapan.  Program yang baik ini jangan sampai seperti kehidupan yang tak ada ruh nya, karena kita gagal menyampaikan pengetahuan yang ada pada modul-modul ini kepada mereka. Ibarat Sholat adalah tiang agama, maka FDS adalah tiang PKH. Salam PKH.

(Silvina Yuza-Pendamping Sosial Paal Lima-Kotabaru-Kota Jambi-Provinsi Jambi)

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Tags: , , ,

Category: FDS PKH

Close