Ketika Pendamping Disabilitas Melaksanakan FDS Modul Disabilitas

Oleh | Pada Februari 23, 2018

Sepenggal cerita pendamping istimewa, PKH Kota Payakumbuh. Ketika Pendamping Disabilitas Melaksanakan FDS Modul Disabilitas Namaku Melki (26 tahun) dan belum menikah. Profesiku saat ini sebagai Pendamping PKH kohor 2016 Kecamatan Payakumbuh Utara, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat dan profesi ini sangat aku Syukuri sekali sesuai dengan motivasi dan cita-citaku dari dulu. Aku berharap suatu saat mampu berbuat untuk kebahagiaan orang banyak, bisa berdiri ditengah-tenagh masyarakat untuk berbagi dan bercerita. Aku memiliki 281 dampingan Keluarga Penerima Manfaat (KPM), 17 Kelurahan dengan 1 Kecamatan. Sebagai seorang Pendamping PKH salah satu rutinitas bulanan ialah pertemuan kelompok untuk verifikaai komponen, sharing masalah seputar PKH dan tidak lupa setiap pertemuan selalu dibumbui dengan candaan antara Pendamping dengan peserta, (aku termasuk Pendamping Humoris hehhe) dan pelaksanaan FDS.

Cerita ini aku petik ketika aku melaksanakan pertemuan kelompok sekaligus FDS di Kelurahan Cubadak Air yang dihadiri oleh 17 peserta / KPM salah satu kelompok kelurahan dampinganku. Dan kebetulan modul FDS yang akan disampaikan tentang “Dissabilitas”. Seperti biasa biasa sebelum masuk ke modul baru, kami selalu mereview sekilas pembahasan materi sebelumnya. Terlihat mata ngantuk, wajah lelah KPM yang ingin pulang sudah bermunculan, padahal modul berikutnya baru akan dimulai. Aku sampaikan ke peserta. Ibu-ibu hari ini kita diskusi tentang Dissabilitas / cacat fisik, sebelum masuk ke pemabahasan izinkan saya bercerita sedikit tentang perjalanan hidup saya ya.. Barulah suasana mulai kondusif kembali.

Ketika Pendamping Dissabilitas Melaksanakan FDS Modul Dissabilitas



Namaku Melki. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Ibu dan Bapakku hanya buruh tani serabutan, jangankan harta berlimpah untuk makan sehari-hari saja jauh dari kata cukup. Aku dan keluarga tinggal dirumah tidak layak huni dikarenakan kondisi perekonomian keluarga yang menghukum. Seringkali orang-orang disekitar memandang sebelah mata dan tidak jarang harga diri kami sering diinjak , dicemooh. Aku masih ingat ketika aku dan ke 4 saudaraku ingin bersekolah, orang-orang bukanlah mengapresiasi tapi malah mencaci “makan saja susah sok-sok an nyekolahin anak”. Kata kata cacian seperti itu sudah menjadi sarapan pagi buat keluarga kami. Dengan semangat dan tekat yang bulat dan harus hidup mandiri , aku dan seluruh saudaraku semuanya bersekolah bahkan juara kelas disekolahnya.  Hanya itu yang mampu kami persembahkan untuk orang tua kami dan orang lain saat itu. Namun beberapa saudaraku terpaksa kandas hanya sampai tamat SMA, itu dikarenakan kondisi ekonomi semakin menjerit dan memaksa untuk mandiri.

Aku anak Istimewa.  Dikeluargaku aku adalah anak yang istimewa (horee). Aku spesial dari saudara-saudaraku bukan karna aku yg paling ganteng atau baik, tapi karena aku memiliki kekurangan fisik tepatnya kata orang-orang disekelilingku aku anak cacat (sedih). Aku menderita mata juling dan minus sehingga keterbatasan dalam melihat. Dari cerita ibuku, ketika aku masih dalam kandung ibuku, ibu mengalami musibah di sambar petir yang  untung saja ibu dan janinnya selamat karena petir menyambar langsung tetapi menyambar pohon besar yang berada disampingnya saat itu. Kejanggalan mulai aku alami ketika aku mulai duduk dibangku SD. Aku hanya bisa membaca tulisan dengan jarak 5 cm dari buku. Ketika guru menulis dipapan tulis aku selalu berjalan kedapan  supaya bisa membacanya dan aku juga lebih mngandalkan pendengaran. Jujur kondisi ini sangatlah berat dan aku tertekan. Apa aku sedih dan sakit?, Iya. Apa aku menderita bahkan sempat menyesal kenapa aku dilahirkan didunia ini?, iya. Meskipun aku kuat dan tegar disaat mereka memper olok-olokanku, disaat aku sendiri aku tetap meraung. Tapi untuk apa aku menyesali semuanya?. Mungkin aku ini manusia spesial titipan Allah. Perjuangan bathin dan hidup selalu aku jalanj bahkan dibangku SMP, SMA. Meskipun didepan mereka aku tetap berusaha menghibur, tersenyum walau di bully hati kecilku tetap meratap. Meskipun kekurangan pada diri itu teramat sulit aku harus berjuang dan berusha. Aku yakin walaupun mataku tidak sempurna, aku masih punya satu mata hati. Dibuktikan Alhamdllah selama di bangku sekolah aku termasuk salah satu siswa yang berprestasi, juara kelas. Dan pada akhirnya aku tetap bisa menyelesaikan kuliahku menyandang gelar sarjana dengan baik. Selalu kutanam dalam jiwa, fisikku memang tidak sempurna bukan berarti aku tidak bisa. Aku tetap bisa bersekolah, aku tetap bisa bekerja, berkarya, membaca, menulis , serta beraktifitas layaknya orang lain karena aku tidak ingin dikasihani. Biarlah cemoohan orang menjadi pendorong semangatku dan suatu saat aku ingin keberadaan ku di akui. Sekarang alhamdllah aku sudah bisa membantu perekonomian keluargaku, mendirikan usaha dan membuka lapangan kerja untuk orang lain. Tidak ketinggalan aku sekarang ini seorang pendamping PKH. Akupun terus melanjutkan bercerita sembari manayangkan dokumentasi potrek kehidupan hingga selesai. Tanpa disadari suasana mulai mendung. Terlihat butiran air mata bergulir dipipi setiap peserta. Sorotan mata mereka seolah berisarat pesan iba, kagum, dan termotivasi. Diujung cerita aku berpesan kepada semua yang hadir disana:

  • Ibu-ibu jangan bersedih akan kondisi hidup kita saat ini, karena diluar sana banyak sekali keluarga yang jauh tidak beruntung dari kita.
  • Jangan terlalu mengeluh masa uang dan jadikan itu alasan utama dalam pendidik. Karena pendidik sekolah itu sangatlah penting untuk masa depan anak kita. Selagi kita tetap berusaha dan berdoa oasti ada jalan kerena Allah Maha Pengasih & Penyayang.
  • Ingat,, jangan hiraukan orang yang mengcemoohkan kita, karena pada dasarnya pencemooh itu adalah orang yang lebih bodoh dari kita. Contoh: dia mencemoohkan kita sudah miskin tapi tetap nyekolahin anak. Padahal dia sendiri tidak pernah sekolah.

Saat itu pertemuan fds suasananya memang sedikit beda dan fokus. Aku pun melanjutkan ke pembahasan isi materi , saling berdiskusi dan tanya jawab sampai selesai. Aku berharap sepenggal cerita itu dapat memotivasi aku dan peserta untuk lebih semangat lagi dan menjadi pribadi lebih baik lagi kedepannya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.
Terima kasih kepada seluruh SDM PKH Kota Payakumbuh yang selalu saling mendukung menjunjung tinggi asas kekeluargaan, saling bekerjasama dan tetap solid, Ucapan terima kasih untuk Dinas Sosial Kota Payakumbuh yang selalu mendukung kami baik secara moril maupaun materi. Seluruh SDM PKH Indonesia, KEMENSOS, khususnya terima kasih untuk seluruh KPM yang selalu memotivasi semangat hidup.

Wassalam.

Sumber _https://manusiaistimewa.com/?p=279

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Tags: ,

Category: PKH Inspiration

Close