KPM PKH Berwirausaha Mandiri Bank Sampah Leuwirejeki, Meraih Berkah Lewat Sampah

Oleh | Pada Mei 31, 2019

Keluarga Penarima Manfaat Program Keluarga Harapan, Berwirausaha Mandiri Bank Sampah Leuwirejeki, Meraih Berkah Lewat Sampah, Sampah merupakan barang yang dibuang dan diabaikan oleh banyak orang, akan tetapi di tangan Cipta Nursari Merdekawati. Sampah berubah menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat bagi lingkungan. Cipta merupakan salah satu pendamping “ PKH kecamatan Leuwigoong Kabupaten Garut yang bergerak dan memiliki ide untuk mendirikan Bank Sampah Leuwirejeki. Bagi Cipta mendampingi KPM PKH bukanlah sekedar mendampingi akan tetapi bagaimana merubah mindsett para KPM PKH agar dapat berubah menjadi lebih produkif, merubah perilaku masyarakat yang pada awalnya sangat ketergantungan dan menganggap bahwa bantuan PKH merupakan pendapatan yang mereka dapatkan setiap 3 bulan sekali. Darisana Cipta mengidentifikasi dan mengarahkan bagaimana agar para KPM PKH ini dapat menjadi lebih mandiri dan menggunakan bantuan yang diberikan oleh pemerintah dengan tepat serta dapat digunakan lebih produktif dengan menggunakan sebagian bantuan sebagai sumber modal agar dapat dimanfaatkan sebagai penghasilan sehari-hari.

Bank Sampah Leuwirejeki berdiri sejak tahun 2017 diawali oleh kesulitan pendamping untuk mengarahkan para KPM PKH berwirausaha mandiri. Akan tetapi untuk menunjang kemandirian ibu-ibu KPM PKH atau salah satunya berdagang itu membutuhkan waktu yang dianggap rumit oleh ibu-ibu KPM PKH. Sehingga berdasarkan modul P2K2  yaitu modul ekonomi pada sesi 1 dan 2 disana dijelaskan bagaimana mengelola keuangan dan belajar menabung.



Saya mencari cara untuk menciptakan sebuah pemberdayaan yang dapat dilakukan oleh banyak pihak baik anak-anak, remaja ataupun orangtua. Dibuatlah konsep yang sederhana, yang mudah dan dapat dikerjakan semua pihak yaitu Bank Sampah leuwirejeki”, ujar Cipta ketika ditanya kenapa harus Bank Sampah yang dipilih.

“Dari Bank Sampah ini Ibu-ibu memiliki penghasilan tambahan, ibu ibu menjadi pejuang lingkungan yang mengamankan lingkungannya dari sumber penyakit sehingga lingkungan menjadi bersih dan menjadi lingkungan yang sehat”, ujarnya.

Proses bank sampah sangatlah sederhana, pada tahap awal ini bank sampah masih berada diproses jual beli namun respon dari masyarakatnya sendiri begitu luar biasa melihat perkembangan selama satu tahun ini di desa leuwigoong, Bank sampah sendiri sedang dilebarkan menjadi bank sampah sekecamatan leuwigoong yang berjumlah 8 desa dengan jumlah anggota 2144 KPM.

“ Selama hampir 2 tahun ini yang sudah berjalan baru 4 desa yaitu Desa Leuwigoong, Desa Sindangsari, Desa Karangsari dan desa Karanganyar. Itupun masih proses pembiasaan”.

Prosesnya 1 bulan sekali mitra kami berkeliling ke setiap kelompok untuk melakukan penimbangan Bank sampah secara individu dan uangnya ditabung di buku tabungan sederhana dan dengan beberapa administrasi agar memiliki pengendalian usaha yang jelas. Setelah ditabung jika sudah mencapai minimal 20.000 ibu-ibu bisa menukarkan tabungan tersebut di Ewarong Leuwirejeki, dengan berbagai sembako yaitu minyak, telur, gula dan lainnya ,tapi tidak bisa diuangkan selama setahun. Namun stelah setahun uang tersebut dapat dicairkan pada saat menjelang puasa Ramadhan.

Proses membiasakan untuk menabung Bank Sampah ini tidak mudah setiap 1 bulan sekali yang terkumpul beragam dari mulai hanya 2000 – 4000 namun setelah di edukasi untuk bagaimana caranya memilah sampah yang baik, ibu-ibu KPM ini bisa menghasilkan satu bulan  mencapai 20.000 – 100.000. Bahkan pada tanggal 5 Mei 2019 ibu-ibu telah mencairkan tabungan Bank sampahnya ada yang hingga mencapai 800.000. Dan itu menjadi sebuah kebiasaan ketika melihat sampah yang berserakan secara spontan mereka mengumpulkan sampah tersebut untuk dijual.

Jika ibu2 faham ketika diedukasi penyortiran sampah yang baik harga yang didapatkan lebih mahal dibanding sampah yang dicampur. Hampir semua sampah dapat dijual, namun teknologinya yang belum memadai sehingga sampah yang dikumpulkam baru hanya sampai jual beli sampah tertentu saja. Seperti bekas minuman, kertas, kardus, kantong kresek, bekas minyak kemasan, kaleng, besi, paku, alumunium dan juga sampah sampah yang tentunya bisa dijual. Padahal semua sampah dapat diolah dan diaur ulang menjadi pupuk, bio solar, briket dan bata.

“ Kami hanya berbekal semangat, prosesnya tidak ingin membebani para ibu-ibu KPM PKH karena itu ibu-ibu mengumpulkan Bank Sampah tidak diantarkan ke tempat kami, akan tetapi kami masih menjemput bola ke setiap Ketua Kelompok dan melibatkan pengelola Bank Sampah ini oleh para Ibu-ibu KPM PKH sendiri, Tahun ini kami mendirikan Koperasi dan nantinya Bank Sampah akan dikelola oleh koperasi sehingga ke depannya kami berharap walaupun tidak didampingi oleh para pendamping proses Bank Sampah ini akan tetap berjalan dan pendamping masih tetap bisa mengontrol dengan menggunakan faktur pembelian antara mitra kami yaitu tukang rongsokan dengan para ketua kelompok, justru ada bukti serah terima tertulis”. Dengan penuh semangat Cipta menjelaskan proses Bank Sampah.

“ Saya masih dalam tahap belajar, dan ingin sangat fokus untuk mengembangkan Bank Sampah ini sehingga dapat memberikan harga yang lebih layak dan manfaat yang lebih besar tidak hanya KPM PKH tapi untuk mastyarakat pada umumnya. Harapan saya bank sampah dapat berkembang lebih baik kami juga bisa memiliki kendaraan yang bisa mengangkut sampah, karena proses pengangkutan masih menyewa mobil dari oranglain dan bisa diarahkan ke arah banyak sektor, karena bisnis sampah ini bisnis yang tidak akan pernah mati,  karena itu kami akan konsentrasi dan fokus untuk mengembangkan ini tidak hanya 1 kecamatan tapi bermimpi lebih besar mengarah kepada produksi, kerajinan dan juga proses lainnya “

GARUT, 11 MEI 2019 CIPTA NURSARI MERDEKAWATI

Anda dapat mengirimkan artikel serupa melalui form berikut Kirim tulisan

 

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Tags: , ,

Category: Kisah Ispirasi PKH

Close