MELALUI FDS MEMBANGUN SEMANGAT KPM PKH

| September 11, 2018 | 0 Comments | Dibaca 30.423 kali

Eksistensi Familly Development Session (FDS) yang terlahir ditengah-tengah Program Keluarga Harapan (PKH), tentu tidak hanya sebatas kegiatan pendukung formalistik semata. Pada dasarnya FDS terlahir adalah sebagai bagian yang integral bagi PKH. Jika diibaratkan sebuah computer, kelahiran PKH sebagai sebuah program bantuan sosial yang memberikan sejumlah nilai rupiah kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) adalah perangkat keras (hardware) computer. Maka sebaliknya, kehadiran FDS melengkapi sebagai perangkat lunak (software) computer. Kedua perangkat ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain—jika harapannya agar computer dapat di oprasikan dengan baik. Itulah sebabnya, kedua obyek ini adalah satu kesatuan yang sejatinya utuh dalam kerangka membangun cita-cita luhur meraih keluarga yang sejahtera, sehingga dapat memutus rantai “setan kemiskinan”.

Bersama hal itulah, FDS dalam arti sebagai perangkat lunak harus mampu menjadi ruh pergerakan dibidang pembangunan sumberdaya manusia KPM yang selama ini dianggap masyarakat terbelakang dalam berbagai hal. Pembangunan sumberdaya manusia KPM menjadi sangat penting dalam FDS, karena tidak saja menyentuh tentang hal-hal terkait bagaimana cara memanfaatkan bantuan sosial yang diterima dalam PKH. FDS juga memiliki cita-cita luhur untuk membuka wawasan pengetahuan KPM dalam berbagai hal yang sifatnya prinsip. FDS memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan pengertian dan pemahaman KPM untuk melihat arti penting keberadaan dirinya sendiri sebagai ciptaan Tuhan di atas bumi, sebagai manusia, keluarga, masyarakat dan bagian dari kemajuan pembangunan bangsa Indonesia.




(Keterangan Foto: Pendamping Sosial PKH Desa Melaya, Kec. Melaya Kab. Jembrana—Bali sedang menyampaikan materi FDS mengenai perencanaan usaha)

Berjalan lurus dari itu semua, hal yang paling fundamental dalam pembangunan sumberdaya manusia dalam FDS sejatinya adalah menyadarkan KPM untuk mengubur jauh-jauh “mental miskin” yang selama ini disematkan di dalam diri KPM oleh KPM sendiri. KPM hendaknya dapat terbangun secara perlahan-lahan dari dogma yang muncul dari dirinya sendiri terhadap status keadaan miskin yang dimiliki selama ini. Hal ini menjadi serius, karena tanpa adanya ramuan yang hebat—“mental miskin” ini pun akan menjadi penyakit yang kronis di dalam diri KPM. KPM akan selalu merasa terkungkung dalam sebuah ruang kemiskinan dan sulit menemukan jalan keluar. Inilah yang kemudian kelak disebut sebagai “kemiskinan kultural” yang memiliki makna—seolah-olah kemiskinan itu menjadi bagian dari sebuah kebudayaan yang ada disekeliling KPM.

Budaya miskin seperti ini biasanya akan tampak dalam bentuk tidak suka berusaha, malas, masa bodoh, manja dengan anugerah alam. Orang-orang yang dibesarkan dalam budaya kemiskinan ini akan memiliki ciri-ciri kepribadian antara lain; merasa diri mereka tidak berguna, penuh dengan keputusasaan, merasa inferior, sangat dependen terhadap orang lain. Orang miskin dalam ruang lingkup ini juga tidak memiliki kepribadian yang kuat, kurang bisa dalam mengontrol diri, mudah implusif dan sangat berorientasi pada masa kini tanpa memikirkan masa depan. Sikap semacam inilah yang cenderung akan membuat KPM lebih susah dalam membuat sebuah perencanaan yang baik bagi masa depan keluarganya.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu KPM An. Kristiana dari Desa Melaya, Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana—Bali setelah mendapatkan materi FDS mengenai perencanaan usaha “saya lo pak…. jujur, banyak hal yang saya dapat dari PKH. Selain bantuan uang, juga ilmu dari pertemuan FDS. Dari pertemuan FDS saya lebih bersemangat dan berani memutar usaha saya…. bantuan dari PKH saya pakai untuk memutar usaha gorengan dan nasi bungkus. Nanti untungnya saya pakai uang jajan anak setiap hari dan kalau ada lebih saya tabung. Takutnya kalau tidak di putar di usaha, nanti keduluan habis! Soalnya saya sudah pengalaman di bantuan BLT alias bantuan langsung telah. Baru dapat bantuan langsung habis.”

(Keterangan Foto: Pendamping Sosial PKH berkunjung ke rumah KPM An. Kristiana di Ds. Melaya, Kab. Jembrana, Bali—untuk melihat usaha gorengan dan nasi bungkus yang saat ini semakin berkembang )

Melalui pelaksanaan FDS yang diemban oleh ketangguhan Pendamping Sosial PKH ini, sekiranya menjadi ramuan yang dapat menetralisir “penyakit” mental miskin tersebut. Seperti halnya kayu kering yang terus digosok, maka ia pun akan mengeluarkan api—hal ini dapat dijadikan makna filosofi, bahwa untuk menyukseskan dan menjadikan eksistensi FDS berhasil dalam membangun semangat juang KPM PKH dalam meraih keluarga sejahtera dan keluar dari jerat kemiskinan, tentu dibutuhkan pelaksanaan yang secara terus menerus. Selain pelaksanaan yang secara terus menerus, tentu pula harus dibarengi dengan strategi serta pengembangan modal intelektual secara struktural maupun professional dalam rumah besar PKH, sehingga kompleksitas permasalahan KPM dapat selalu diantisipasi. Salam PKH!.

***By. I PUTU HERI DIANANDIKA—Pendamping Sosial PKH Kabupaten Jembrana, Bali.

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Komentar

Category: FDS PKH

Close

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

No thanks. I don't want.