Menularkan Virus Membaca Anak KPM PKH Selatan Sejak Usia Dini

Oleh | Pada Oktober 22, 2018

Menularkan Virus Membaca Kepada Anak – Anak KPM PKH di Kecamatan Atambua Selatan Sejak Usia Dini, Kemajuan suatu daerah sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakat di daerah tersebut. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat semakin tinggi pula kualitas kehidupan mereka dan semakin rendah tingkat pendidikan masyarakat sudah tentu kualitas hidup mereka rendah. Kabupaten Belu adalah salah satu daerah di Indonesia dengan tingkat pendidikan rendah, sehingga tidak mengherankan jika mayoritas masyarakat Belu masih dikungkung oleh kemiskinan. Karena itu untuk dapat membawa keluar Belu dari kemiskinan hal pertama yang dibuat adalah mencerdaskan masyarakatnya.

Untuk mencerdaskan masyarakat Belu kami berpikir bahwa kita harus menularkan virus gemar membaca sejak dini kepada anak – anak, karena dengan proses membaca anak – anak dapat menyerap ilmu dan pengetahuan yang mampu membuka cakrawala berpikir mereka. Ketika cakrawala berpikir mereka telah terbuka, saya yakin mereka akan lebih kreatif, inovatif dan berdaya saing dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan mereka. Namun saya juga menyadari bahwa keterbatasan buku adalah salah satu masalah yang saya hadapi dalam upaya menyebarkan virus positif ini.

Karena itu dalam rangka menyebarkan virus  gemar membaca kepada anak – anak Belu khususnya di Kecamatan Atambua Selatan kami mulai merintis berdirinya tiga buah Kelompok Belajar untuk anak – anak Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan(PKH) yakni; 1) Kelompok Belajar Oan Lidak di Lingkungan Fatubiti, Kelurahan Lidak, 2) Kelompok Belajar Rumbia di Lingkungan Lolowa Kelurahan Lidak dan 3) Kelompok Belajar Fatubaun di Lingkungan Fatubaun Kelurahan Manuaman.



Awalnya kelompok – kelompok belajar ini adalah kelompok belajar bahasa Inggris untuk anak – anak dari KPM di ketiga lingkungan yang disebutkan tadi dengan rentang usia 7-15 tahun. Tujuan dibentuknya kelompok ini adalah meningkatkan keterampilan dan pengetahuan berbahasa Inggris anak – anak. Namun seiring berjalannya waktu anak – anak yang bergabung ke kelompok ini semakin banyak dan kami menemukan beberepa persoalan yang membuat saya perlu membuat hal lain:

  1. Ada beberapa anak usia SD yang agak sulit membaca (masih terbata – bata ketika membaca)
  2. Ada beberapa anak yang kesulitan belajar karena bekerja membantu orang tua (menjual sayur selepas pulang sekolah)
  3. Anak – anak usia di bawah 6 tahun senang belajar tapi mereka tidak bisa membaca sama sekali.
  4. Beberapa anak sangat pintar tapi tidak memiliki literatur/buku yang cukup untuk kebutuhan belajar mereka.

Melihat persoalan yang ada kami berpikir bahwa di sini mesti ada Kelompok Belajar dengan segudang buku yang mampu menjawabi kebutuhan mereka akan pengetahuan. Dan kami pun berpikir tidak hanya Bahasa Inggris yang diajarkan tetapi keterampilan membaca itu sendiri yang harus didorong serta minat baca anak – anak harus ditingkatkan.

Sejauh ini saya telah melakukan beberapa langkah untuk semakin mewujudkan kelompok – kelompok belajar bahasa Inggris ini menjadi kelompok yang menyediakan banyak sumber buku yakni:

  • Membeli buku sendiri setiap bulan
  • bergabung dengan Relawan Literasi Buku Bagi NTT,
  • bekerja sama dengan perpustakaan daerah dan
  • bekerjasama dengan beberapa teman yang bersedia menyumbangkan buku kepada kami untuk menambah koleksi buku di kelompok belajar kami. Namun usaha ini dirasakan belum cukup untuk menjawabi kebutuhan buku anak – anak ini.

Kami percaya melalui pembudayaan baca, anak – anak akan meningkat pengetahuannya, meningkat kesehatannya, meningkat tatanan ekonominya yang mana peningkatan tersebut akan mengurangi pengangguran dan kemiskinan di masa depan. Dengan membaca pula akan terbentuk kepribadian anak – anak menjadi lebih baik. Kepribadian adalah pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang, baik yang jasmani, mental, rohani, emosional maupun sosial. Semua ini telah ditatanya dalam caranya yang khas, di bawah beraneka pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dari tingkah lakunya dalam usahanya menjadi manusia sebagaimana dikehendakinya.

Mendidik kepribadian dapat dilakukan melalui buku. Dengan membaca buku seseorang akan memiliki ilmu dan pengetahuan yang luas, dari situ ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk sehingga akan terbentuk pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Minat dan kebutuhan masyarakat untuk gemar membaca memerlukan perhatian serius dari segala lapisan masyarakat, pemerintah, aktor pendidikan dan dari pihak yang sadar dan peduli akan arti pentingnya membaca bukan hanya sebagai hobi, tetapi juga pemutus rantai kemiskinan, kebodohan dan ketidakpedulian sosial.

Redemptus De Sales Ukat, S.Fil Pendamping Sosial PKH Kec. Atambua Selatan Kab. Belu

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Tags:

Category: PKH Inspiration

Close