PENDAMPING PKH ITU, HARUS KUAT DAN BERTANGGUNG JAWAB

| Maret 14, 2018 | 0 Comments | Dibaca 91 kali

PENDAMPING Program Keluarga Harapan, PKH ITU,  HARUS KUAT DAN BERTANGGUNG JAWAB

 “Ibu – ibu KPM yang tengah hamil, silakan periksa kandungan di Posyandu diwilayah masing – masing. Jangan lupa dicatat, setiap detil perkembangan kandungannya.” MFariz




Suatu saat saya akan menunjukan bahwa saya ini juga kuat, seperti saya melihat ibu pendamping itu. Dia kuat, masih bisa berada di 2 atau 3 tempat yang berbeda selama sehari.

Namanya Rahmawati Abd Latif, Umurnya sudah 32 tahun, ibu 1 anak dan sekarang lagi mengandung anak ke dua. Usia kandungan sudah hampir Sembilan bulan. Melihat usia kandungan sembilan bulan itulah, kenapa sampai saya katakan saya juga harus kuat seperti Rahmawati. Bukan hanya saya, melainkan kita semua, Pendamping Sosial PKH Se Indonesia yang berjibun banyaknya.

Kuat fisik dan mental harus kita tanamkan, sebab kita akan diperhadapkan antara profesionalisme kerja dan ketidaknyamanan melihat kondisi masyarakat yang memang harus butuh sentuhan. Kita harus siap dilemma, ketika diperhadapkan pada kondisi masyarakat yang sudah tidak lagi memenuhi kategori penerima bantuan PKH, sementara masyarakat tersebut sangat layak untuk mendapatkan bantuan, dan akhirnya kita harus memutuskan untuk menonkategorikan. Sunggu dilemma.

Oke, kalau itu menjadi keharusan, maka putusan yang paling baik adalah ikut aturan. Itu soal kuat mental atau perasaan, sementara kuat fisik yang ingin saya sampaikan adalah, soal kemampuan dan daya tahan kita dalam melakukan pendampingan. Mungkin, kita banyak mengeluh hanya karena kondisi tubuh yang lelah, flu atau sakit kepala yang biasa – biasa saja. Wajar dan manusiawi kalau kita bersikap seperti itu, bahkan saya pun pernah mengalami kondisi malas yang memuncak. Sehingga banyak alasan-alasan untuk menghambat saya bekerja.

Alasan diatas mentah dengan sendirinya, ketika kemudian kita melihat sosok kuat yang ada pada diri Rahmawati, perempuan kuat yang biasa kami panggil Tiwe adalah sosok ibu yang luar biasa. Ia masih mau bekerja meski kondisi kehamilannya semakin membesar. “ Akhir bulan ini rencana akan melahirkan anak kedua.” Kata Tiwe. “Saya sengaja tetap bekerja, kalau dirumah saja pasti bosan,” Lanjutnya. Bagi saya bukan soal bosan dirumah, itu alasan pembenaran saja yang disampaikan oleh Tiwe. Saya tahu, ada banyak tugas dan tanggungjawab yang harus kami selesaikan secara cepat. Makanya, ia harus turun untuk melakukan kroscek dilapangan.

Artinya. Sudah kuat, Tiwe juga bertanggung jawab terhadap tugas yang diserahkan kepada dia. Hamil besar bukan alasan untuk tidak menyelesaikan pekerjaan. Padahal, secara rasional ketika menyampaikan alasan bahwa sedang hamil, Koordinator PKH Kota Palu pasti bisa memaklumi. Tapi itu tidak dia lakukan, ia dengan semangat yang tersisa tetap menjalankan tugas sampai benar – benar tuntas.

Mengingat jumlah dampingan 306 KPM se Kelurahan Besusu Barat – Kota Palu, bukan angka sedikit untuk di diamkan. Tiwe sering melakukan kunjungan dari kelompok ke kelompok, dari rumah ke rumah. Belum lagi di akhir tahun kemarin, kami melakukan validasi KPM perluasan 2018.

Saya sempat lihat, ketika Tiwe dijam malam harus melakukan pertemuan untuk memastikan bahwa kegiatan validasi KPM Perluasan 2018 harus selesai. Luar biasa ibu satu ini, sangat menginspirasi bagi saya dan teman – teman pendamping lainnya agar tetap kuat dan bertanggung jawab untuk menuntaskan tugas – tugas sosial yang diserahkan ke pendamping.

Memang untuk mengawal program social ini, butuh keseriusan, Kesuksesan PKH itu ada di tangan pendamping, baik cara kerja pendamping, baik juga hasil yang akan kita dapatkan. “Menjadi Pendamping PKH, Sangat menyenangkan ada hal-hal yg dulu tidak kita ketahui mengenai kondisi sosial masyarakat akhirnya jadi tahu.” Ungkap Tiwe. Makanya, Saya melihat ia sangat total dalam bekerja. Pengalaman paling mengasikan jadi pendamping menurutnya adalah ketika harus berjalan kaki mencari KPM yang tinggal di bawah kolong jembatan hingga ada yang tinggal di bekas bangunan toko tua yg hampir rubuh. Hal itu dilakukan hanya untuk memastikan mereka memang layak mendapatkan bantuan. Setelah berhasil, data sesuai syarat, maka perasaan puas dan bahagia itu datang.

“Secara pribadi, saya sangat senang bisa bekerja sebagai Pendamping, Selain beribadah untuk kebaikan, Tugas saya juga adalah menjembatani penerimaan bantuan dari pemerintah kepada masyarakat yang membutuhkan.” Ungkap Tiwe, ia merasa bahwa dengan adanya program PKH ini adalah kesempatannya untuk berbuat baik kepada masyarakat.

Tiwe satu dari sekian banyak pendamping di Indonesia ini, yang tulus bekerja untuk masyarakat. Tidak mengenal lelah, meski kondisi wilayah dampingan yang sulit, ada digunung, dihutan dan diberbagai tempat yang mempunyai akses sangat sulit dijangkau, bukan sebuah kendala jadikan itu sebagai tantangan agar memastikan bahwa akses bantuan dan target kesejahteraan masyarakat Indonesia bisa tercapai.

Semoga kisah Tiwe, mampu menginspirasi kita semua agar tetap kuat dan tangguh dalam melaksanakan tugas. Sekian dan terima kasih…Palu, 13 Maret 2018

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Komentar

Tags: , , ,

Category: PKH Inspiration

Close