Pendamping Sosial PKH Harus Mampu Menjadi Role Model Bagi KPM PKH

Oleh | Pada Februari 22, 2019

Arti Kemiskinan Sejati Adalah Ketika Kita Kehilangan Sebuah Harapan Menjadi Pendamping Sosial PKH itu merupakan profesi yang unik karena dia sudah harus mampu menjadi role model bagi KPM PKH yang didampinginya. Begitulah yang terjadi pada Agustin Hariyani, seorang Pendamping Sosial PKH dari Kabupaten Madiun.

Meski latar belakang dia dari Fakultas Kehutanan, tidak membuatnya kehilangan jiwa sosialnya. Pada tahun 2007 dia  mencoba mendaftarkan dirinya di saat ada rekrutmen SDM PKH di Kabupaten Madiun. Bersama sekitar 23 orang lainnya dia lolos menjadi seorang Pendamping Sosial PKH.

Tugasnya saat itu belumlah sepadat tugas SDM PKH saat ini. Namun tugas SDM PKH saat itu pada prinsipnya sama saja dengan tugas SDM PKH saat ini yaitu memberikan pendampingan, memberikan informasi dan pencerahan bagi KPM PKH dampingannya.



Dengan jumlah 360 KPM PKH yang menjadi dampingannya di 8 desa di Kec.  Mejayan Kab.  Madiun awal program tahun 2007, dia mengajarkan banyak hal, salah satunya tentang manajemen keuangan keluarga. Bermula dari kegiatan pertemuan kelompok yang dilakukan setiap bulan dia mendengar banyak keluhan terkait dengan carut marutnya manajemen keuangan KPM PKH. Banyak diantara mereka yang terjerat hutang pada rentenir sehingga ketika KPM PKH tersebut mendapatkan uang bantuan sosial PKH yang terjadi adalah uang tersebut digunakan untuk melunasi hutang – hutang yang ada.

Melihat keadaan itu dia akhirnya memberikan tips dan cara mengelola keuangan keluarga. Hal yang pertama kali dia lakukan adalah meminta mereka membuat daftar kebutuhan sehari – hari. Kemudian dari daftar tersebut dia minta KPM PKH nya membuat skala prioritas dan memisahkannya dalam kategori Kebutuhan Primer atau Kebutuhan Sekunder. Awalnya KPM PKH masih bingung membedakan mana kebutuhan primer mana kebutuhan sekunder. Dengan telaten dia menjelaskan definisi dari masing – masing kebutuhan tersebut hingga mereka bisa mengerti perbedaannya.

Setelah itu, dia minta KPM PKH menuliskan sumber keuangan masing – masing keluarga. Dari daftar pemasukan yang ada kemudian dia minta KPM PKH nya untuk memisahkan menjadi 2 kategori pemasukan, yaitu Pemasukan Tetap dan Pemasukan Tidak Tetap. Hal ini pun masih menemukan kendala karena rata – rata suami dari KPM PKH nya bukan buruh pabrik yang selalu mendapatkan upah tetap setiap bulannya melainkan buruh serabutan dan petani. Untuk itu dia memberikan solusi yaitu membuat daftar rata – rata pendapatan dalam setiap bulannya. Dari sini KPM PKH mendapatkan sedikit pencerahan terkait sumber pemasukan di keluarga masing – masing.

Setelah daftar kebutuhan dan daftar pemasukan sudah berhasil dibuat, tibalah saatnya memulai perhitungan – perhitungan berdasarkan angka – angka yang ada di buku catatan keuangan KPM PKH. Ternyata hasilnya ada yang menunjukkan minus ada yang surplus. Bagi yang hasilnya masih minus dia minta KPM PKH nya memperbaiki daftar kebutuhan dengan mengurangi hal – hal yang tidak perlu hingga di dapat angka yang pas antara kebutuhan dan pemasukan.

Di sinilah fungsi menuliskan daftar kebutuhan dan daftar pemasukan bagi setiap keluarga karena jika perhitungannya meleset maka yang terjadi adalah akan selalu timbul hutang yang tidak berkesudahan. Jika sebuah keluarga selalu dekat bahkan selalu memiliki hutang maka niscaya keluarga tersebut akan rentan dengan kemiskinan.  Namun sebaliknya, jika kemudian keluarga tersebut bisa mengelola keuangan dengan baik maka keluarga tersebut akan bisa segera menjadi keluarga yang sejahtera.

Tidak mudah memang bagi seorang Agustin Hariyani dalam mengubah pola pikir KPM PKH nya yang tadinya terbiasa hidup dalam kondisi serba tidak teratur dalam segi keuangan. Namun tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika kita mau berusaha. Motivasi itulah yang diberikan kepada KPM PKH nya sehingga sampai hari ini mereka sudah bisa mengelola keuangan keluarga mereka dengan baik. Bagi seorang Agustin Hariyani, Miskin bukanlah kondisi tanpa harta atau materi,  tapi kemiskinan dalam arti sebenarnya adalah di mana seseorang itu tidak lagi memiliki sebuah mimpi dan harapan. Selama kita masih memiliki sebuah mimpi dan harapan, maka kita akan bisa berdaya.

Diceritakan oleh Agustin Hariyani
Ditulis ulang oleh Guruh Andrianto

Sumber https://pkh.kemsos.go.id/?pg=detail_berita&id=144

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Tags:

Category: Kisah Ispirasi PKH

Close