Bantuan PKH Non Tunai Sebagai Bentuk Perkembangan Zaman, Pendidikan Adalah Warisan Terbaik

Oleh | Pada Agustus 21, 2018

Ibu Siti Aisyah KPM PKH : Bantuan PKH Non Tunai Sebagai Bentuk Perkembangan Zaman, Ibu Siti Aisyah (45 Tahun) adalah seorang ibu dari 3 orang anak, beliau juga mengasuh 5 orang anak kakaknya yang telah meninggal dunia akibat gagal jantung, suami kakak Bu Siti pergi meninggalkan keluarga setelah istrinya meninggal dunia. Dua anak asuh Bu Siti hingga kini masih mendapatkan PKH. Suami Bu Siti adalah nelayan sedangkan Bu Siti menjadi pengupas kulit kerang dengan upah 5.000 per kaleng (Rp.300.000,- per minggu), semua anak-anak ikut membantu beliau mengupas kerang.

Bu Siti adalah ibu yang sangat kreatif, bersama anggota kelompok pertemuan PKH (Pertemuan Peningkatan Kapasitas Keluarga) beliau mempunyai kegiatan membuat kue ilat sapi untuk dijual ke pasar, dibantu oleh pendamping PKH, Bu Siti dan kelompoknya memperoleh bantuan KUBE dari Dinas Sosial Kabupaten Bulungan senilai Rp.14.000.000,-

Transformasi bantuan PKH dari Tunai menjadi Non Tunai dirasakan lebih memudahkan bagi KPM PKH untuk mendapatkan dana bantuan, Bu Siti berpendapat bahwa dengan menggunakan bantuan PKH Non Tunai dengan ATM sekarang tidak perlu mengantre panjang, bisa diambil kapan saja saat dibutuhkan dan tidak akan tertukar nama dengan orang lain , ”enak ya sekarang pake atm, ndak antri, kita tinggal ke atm kalo gak bisa tinggal minta tlg ke satpam nya, duitnya sudah keluar, kalo kemaren di kantor pos, kita harus antri, lama, kadang ada kekeliruan atau tertukar nama yang sama’’.



Ini adalah pengalaman pertama Bu Siti memiliki kartu ATM, beliau menyatakan tidak ada kendala yang berarti dalam menggunakan ATM, tidak segan untuk bertanya baik kepada pendamping atau petugas bank adalah kuncinya, bahkan Bu Siti menganggap perubahan bantuan PKH ini sebagai bentuk perkembangan zaman yang harus diikuti, seperti pernyataan berikut, “saya sebelum nya belum punya atm tapi kan dikasih petunjuk, saya banyak-banyak bertanya sama satpam nya, saya belajar akhirnya bisa, ini kan nama nya perkembangan jaman, ya harus ikot”.

  • Pendidikan Adalah Warisan Terbaik

Sejak kakaknya meninggal dunia akibat gagal jantung dan suami kakaknya meninggalkan keluarga pada tahun 2003, pengasuhan 5 orang keponakannya yang masih bersekolah menjadi tanggung jawabnya dan suami. Harta bukan menjadi orientasi utama Bu Siti, pendidikan menurutnya merupakan warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anaknya untuk memperbaiki kondisi keturunannya,

“kita ini orang ekonomi nya lemah, jadi kamu harus giat, dinding rumah saya aja hampir gak ada, saya itu gak kaya orang-orang, gak kepingin rumah mewah, ini itu, yang saya ingin anak saya punya pendidikan, sebaek-baeknya warisan itu cuma pendidikan, penderitaan maupun kesusahan kita ini usahakan cukup saya aja yang merasakan, jangan sampai turun temurun”.

Walaupun latar belakang pendidikannya hanya tamatan SMP, semangatnya ini membuat Bu Siti mampu membawa 1 anak dan 1 keponakannya lulus sarjana, yakni Sarjana Kehutanan dan Hukum, ini merupakan kebanggaan terbesarnya. Dua anak (Jurusan Ekonomi dan Perikanan) dan satu keponakan (Jurusan Perikanan) masih berkuliah bahkan keponakannya tersebut menjadi juara 1 cerdas cermat tingkat Kabupaten Bulungan dan kini sedang mengikuti cerdas cermat di MPR RI. Tiga orang keponakannya yang lain masih bersekolah. Hal ini terucap oleh Bu Siti, “saya dan suami bergandeng tangan, sesulit apapun, kami harus sekolahkan anak, itu tekad utama nya, anak saya maupun anak Alm. kakak saya perjuangkan untuk pendidikannya”.

  • Pertemuan Kelompok Bulanan Membawa Kami Mendapatkan KUBE

Bu Siti kerap mengikuti pertemuan kelompok KPM PKH setiap bulannya, salah satu kegiatan kelompok yang rutin dilaksanakan adalah membuat kue ilat sapi dengan modal sendiri yang kemudian dijual di pasar-pasar. Inisiatif usaha kelompoknya ini membuatnya mendapatkan bantuan KUBE dari Dinas Sosial Kabupaten Bulungan senilai Rp.14.000.000,-, saat ini tidak hanya menjual ke pasar, kelompok ini kini telah banyak mendapat pesanan kue bahkan hingga ke pesantren Gontor, Jombang, Jawa Timur. Keuntungan usaha dibagi dengan anggota kelompok, jika belum mencukupi dikumpulkan dahulu untuk tambahan modal usaha selanjutnya, “kalau usaha, hasilnya agak banyak dibagi, kalau enggak dikumpulin dulu baru dibagi, bahkan sekarang udah banyak nelepon minta dibikinkan, bahkan kami pernah dapat pesanan ke Gontor Jombang, 500 buah, ke pesantren”.

Program Keluarga Harapan diakuinya sangat membantunya menghantarkan anak dan keponakannya dalam menempuh pendidikan, seperti yang disampaikan berikut, “PKH ini sangat membantu keluarga saya, kalau dapat bantuan bisa beli keperluan sekolah, jadi penghasilan bapaknya untuk keperluan sehari-hari di rumah”. Bu Siti bertekad untuk sesegera mungkin mandiri dan tidak lagi tergantung dari bantuan PKH, jika suatu saat nanti ada peningkatan penghasilan, beliau akan ikhlas untuk segera berhenti menjadi PKM PKH, “saya sudah ngomong dengan pendamping saya, bu saya juga gak terlalu ambisi terus-terusan menjadi anggota PKH, besok2 saya ada peningkatan, ada penghasilan, mungkin hati ikhlas saya serahkan kartu pkh saya ke ibu, untuk sementara ini kayaknya saya masih butuh, kalau bisa dipertahankan dulu’’.

 

Oleh     : Dini Fajar Yanti

Editor   : KAS/JSK

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Tags:

Category: PKH Inspiration

Close