Karena PKH kini aku berdaya untuk hidup lebih sejahtera

Kemiskinan di Indonesia Kemiskinan di Indonesia merupakan masalah yang besar meskipun dalam beberapa tahun terakhir angka resmi menunjukkan tren yang menurun sedikit demi sedikit. Dikarenakan daerah pedesaan yang padat di Jawa, Bali, Lombok, dan sebagian Sumatera, kemiskinan dapat diklasifikasikan ke dalam kemiskinan pedesaan dan perkotaan. Kemiskinan perkotaan lazim tidak hanya di Jabodetabek, tetapi juga di Medan dan Surabaya.

 Sebagai kepulauan yang luas, karakteristik dan implikasi kemiskinan sangat bervariasi dari pulau ke pulau dan budaya ke budaya. Papua memiliki masalah kemiskinan yang serius tersendiri karena isolasi ekonomi, budaya, bahasa dan fisik yang membedakannya dari wilayah lain di Indonesia. (Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan_di_Indonesia)

Karena PKH kini aku berdaya untuk hidup lebih sejahtera Berdasarkan informasi di atas bisa kita ketahui bahwa kemiskinan adalah masalah besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia. Masalah ini seperti tidak akan pernah selesai dari tahun ke tahun. Beberapa upaya dari pemerintah sudah dilakukan supaya masalah ini bisa segera terselesaikan, diantaranya dengan mengadakan beberapa program yang bertujuan untuk mengentaskan masyarakat Indonesia dari kemiskinan.



Salah satu program pemerintah tersebut adalah Program Keluarga Harapan atau lebih sering disebut sebagai PKH, sebuah program yang dilaksanakan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia dan sudah berjalan lebih dari 10 tahun. Manfaat dari program ini sangat terasa bagi masyarakat miskin baik yang berada di daerah perkotaan maupun di pedesaan karena selain diberikan bantuan bersyarat, penerima manfaat PKH bisa mendapatkan intervensi Rutilahu, Rastra, KIS dan KIP yang disebut program perlindungan yang integratif holistik termasuk program KUBE dan E-Warong (Warung Gotong Royong).

Keberhasilan Pertemuan Kelompok PKH dalam mengantarkan KPM PKH untuk melakukan Graduasi Mandiri

Menurut penuturan Huriani, seorang penerima manfaat PKH yang tinggal Desa Duman Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), program ini sudah bisa mengubah kehidupannya setahap demi setahap. Saat awal dia menjadi peserta PKH di tahun 2011, selain dia menggunakan uang bantuan PKH untuk membiayai sekolah anaknya dari bangku SD hingga lulus SMA, dia secara inisiatif menyisihkan bantuan yang diterimanya untuk dijadikan modal usaha yaitu berjualan Pecel dan Rujak. Hasil yang diperolehnya diputar kembali untuk mengembangkan usaha sehingga usahanya kini sudah berkembang cukup pesat .

Di tahun 2016, Huriani menyatakan mengundurkan diri dari kepesertaannya dari PKH karena merasa sudah mampu berdikari dan dia ingin untuk memberi kesempatan bagi masyarakat yang masih membutuhkan bantuan PKH. Dia  tidak ingin bergantung terus kepada bantuan yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini ini tidak lepas dari semangat dan motivasi yang diberikan oleh Septina Rahmantika Sari, seorang Pendamping PKH yang sudah mendampingi Ibu Huriani selama 5 tahun.

 


Hal yang sama juga dirasakan oleh salah seorang KPM PKH bernama Sumarni, yang tinggal di Dukuh Teken RT 1 RW 5 Desa Kali Wulu, Kecamatan Kebak Kramat Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah. Ibu dari 3 anak yang masih bersekolah di SD Kali Wulu tercatat sebagai penerima bantuan PKH sejak tahun 2016 hingga di tahun 2017 dia menyatakan untuk keluar dari kepesertaan PKH dikarenakan sudah merasa mampu dan bisa hidup mandiri dari usaha dagang yang dia jalani ditambah dengan penghasilan suaminya yang sebagai seorang sopir.

Keputusan yang diambil oleh Sumarni tidak lepas dari usaha yang dilakukan oleh Isni Agustina, seorang Pendamping PKH yang dalam setiap pertemuan kelompok selalu memberikan motivasi dan semangat kepada KPM dampingannya supaya bisa memberdayakan potensi yang dimiliki para KPM nya. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Isni Agustina rupanya sangat bermmanfaat bagi Sumarni sehingga dia kemudian mencoba berdagang dan akhirnya berhasil. Tidak butuh waktu lama bagi Sumarni untuk kemudian menyatakan pengunduran dirinya sebagai KPM PKH.

 


Keberhasilan FDS PKH dalam mengantarkan KPM PKH untuk melakukan Graduasi Mandiri

Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Pendamping PKH adalah kegiatan Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) atau lebih sering disebut dengan kegiatan FDS (Family Development Session). Bagi KPM PKH, banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan FDS ini diantaranya adalah mendapatkan pengetahuan tentang Pendidikan dan Pengasuhan Anak, pengetahuan tentang Pengelolaan Keuangan, pengetahuan tentang Kesehatan dan Gizi, pengetahuan tentang Perlindungan Anak, pengetahuan tentang Lansia dan pengetahuan tentang Pelayanan bagi Disabilitas Berat.

Dua  peserta PKH yang bernama Misbah dan Hasanah merasakan manfaat dari kegiatan FDS yang diadakan oleh Alfianor, Pendamping PKH Takisung. Misbah yang tinggal di desa Takisung RT 8 Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan ini tercatat sebagai peserta PKH dari tahun 2008 akhirnya menyatakan pengunduran dirinya sebagai peserta PKH terhitung sejak bulan Agustus 2016. Dia dan suaminya yang bernama Kifli mencoba merintis usaha peternakan ayam pedaging. Sama halnya dengan rekannya, Hasanah yang merupakan warga desa Benua Lawas juga menyatakan mengundurkan diri dari kepesertaan PKH karena merasa mampu untuk hidup dengan usaha berdagang makanan sehingga dia pikir bantuan PKH dari pemerintah lebih baik dialihkan untuk warga yang belum mendapatkan bantuan PKH.

 


Keberhasilan Pendamping PKH dalam memberdayakan KPM PKH untuk membuka Warung KUBE Mandiri.

Tujuan pertemuan kelompok yang rutin dilaksanakan setiap bulannya adalah untuk membahas permasalahan yang dihadapi oleh para peserta PKH dan memotivasi peserta PKH untuk bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh peserta PKH itu sendiri. Hal ini dilakukan oleh Ivan Nurcahyo, Pendamping PKH Kabupaten Madiun kepada KPM yang didampinginya. Berdasarkan pertemuan kelompok PKH yang dilakukan olehnya, peserta PKH diajak untuk membuat warung KUBE PKH supaya masalah ekonomi yang dihadapi mereka bisa teratasi.

Dalam pertemuan kelompok tersebut, Tri Wahyuni, ibu 2 anak yang masing – masing bersekolah di bangku SMP dan SMA mengeluhkan biaya kebutuhan sekolah anaknya yang dari tahun ke tehun semakin besar. Begitu juga dengan Triyatni, sering merasa kerepotan karena sering berhutang ke warung untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Ivan kemudian memberikan usulan supaya para KPM tersebut membuat warung sembako yang dikelola oleh mereka sendiri. Dia juga memberikan pemahaman mengenai apa – apa saja yang harus dipersiapkan dalam membuat sebuah warung yaitu adanya modal awal, sumber daya manusia dan pemasarannya harus tepat sasaran.

Akhirnya mereka menyepakati untuk membuat warung KUBE yang akan menjual Sembilan bahan pokok dengan modal dari iuran para anggota dan diberi nama Warung Kelompok Usaha Bersama Mandiri. Pada awalnya, warung KUBE yang terletak di desa Glonggong ini melayani penjualan berdasarkan pesanan dari anggotanya sehingga uang modal tidak berhenti di situ terlalu lama pada barang yang tidak terbeli. Dalam prakteknya, penjualan dilakukan secara tunai atau kredit sesuai dengan kesepakatan. Seiriung waktu yang berjalan, warung KUBE itu sudah berjalan selama 3 tahun. Bahkan kini warung KUBE tersebut sudah mendapat bantuan modal dari Pemerintah sehingga barang – barang yang dijual lebih lengkap dan memiliki stok yang cukup.

Peran Pendamping di sini adalah ikut mengawasi dan memberikan pelatihan dalam hal manajemen KUBE yang didirikan oleh peserta PKH. Manfaat KUBE ini sangat dirasakan oleh para peserta yang tergabung dalam kelompok tersebut. Dalam pembagian SHU kepada para anggota, sistem pembagian dengan prosentase diterapkan di sini. Untuk anggota mendapatkan 50 %, pengelola KUBE mendapat 25 %, untuk pengembalian modal 10 %,  untuk dana sosial 5 %, untuk operasional 5 % dan untuk pengurus 5 %. Sementara dari KUBE itu berdiri sudah bisa membagikan SHU sebesar 12 juta rupiah yang mana setiaap anggotanya bisa menerima antara 25 ribu hingga 300 ribu rupiah.

 


Berbeda lagi dengan apa yang dilakukan oleh Siti Minatun, peserta PKH dari desa Balerejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun Provinsi Jawa Timur. Berawal dari kesulitan hidupnya karena harus menanggung kehidupan 2 anak dan suami yang sakit – sakitan dia pun berkeluh kesah kepada Saris Diding Pamungki, Pendamping PKH yang selama ini mendampinginya dalam kepesertaan PKH.

Kemudian Saris menyarankan Siti untuk belajar membuat kue kering yang nantinya bisa dijual di warung – warung. Siti pun mengikuti saran itu dengan mendaftarkan diri ke Balai Desa Balerejo di mana saat itu sedang mengadakan pelatihan tata boga yang ditujukan untuk ibu – ibu yang ada di desa tersebut. Hasil dari pelatihan tersebut akhirnya dipraktekkan di rumah dan sejak saat itu Siti memiliki usaha berjualan kue kering hasil produksinya sendiri.

Namun permasalahan Siti bukan hanya masalah ekonomi semata. Suaminya yang sakit – sakitan sering tidak bisa dibawa ke Puskesma dikarenakan tidak memiliki kartu Jamkesmas dan ketidakadanya biaya untuk melakukan pengobatan mandiri. Oleh Saris, keadaan Siti yang serba minim itu disampaikan ke pihak Puskesmas dan coba dimediasi supaya suami Siti bisa mendapatkan pengobatan gratis meskipun tidak memiliki kartu Jamkesmas. Akhirnya pihak Puskesmas bisa memahami keadaan siti sehingga suami Siti bisa mendapatkan pengobatan secara gratis dengan cara menunjukkan kartu PKH milik Siti.

Siti merasaa bersyukur dengan adanya PKH ini. Meski dia menyadari bahwa dia belum mampu melakukan graduasi mandiri namun keberadaan dirinya sebagai KPM PKH dirasakan sangat membantu kehidupannya. Biaya untuk kebutuhan sekolah anak – anaknya bisa terbantu dengan adanya bantuan dari pemerintah dan suaminya bisa mendapatkan pengobatan dari Puskesmas secara gratis dengan menunjukkan kartu PKH miliknya. Baginya, PKH dan keberadaan Pendamping PKH yang mau mendampingi keluarganya adalah sebuah berkah yang tak ternilai. (GA)

Comments

comments

Category: PKH Inspiration

Close