Kisah Cinta IBU-KU KPM-KU

| Desember 10, 2017 | 0 Comments | Dibaca 44 kali

Kisah cinta antara Pendamping PKH dengan sesama rekan Pendamping PKH sudah jamak terjadi, begitu juga dengan kisah cinta Operator PKH dengan sesama rekan Operator PKH, itu juga sudah menjadi hal yang biasa. Begitu juga dengan kisah cinta antara Operator PKH dengan Pendamping PKH, itu juga ada.

Namun bagaimana dengan kisah cinta antara Pendamping PKH dengan KPM atau anggota keluarga KPM? Saya jawab.. kisah itu ada. Nah, pertanyaannya apakah tabu memiliki kisah cinta dengan KPM atau dengan anak KPM? Di sini saya coba buka ingatan saya saat ibu Oetami Dewi menjelaskan perihal ini.

Pada dasarnya rasa cinta tidak bisa dibuat atau dipaksakan. Itu naluri manusia untuk mencintai dan dicintai seseorang. Masalahnya, rata – rata KPM itu adalah ibu rumah tangga yang sudah punya anak dan suami, jadi jelas tidak boleh lah mencintai KPM karena dia sudah punya suami dan anak. Namun bagaimana jika Pendamping mencintai anak perempuan KPM / anak laki – laki KPM? Hal itu diperbolehkan sepanjang statusnya sama – sama single.




Kemudian pertanyaan berikutnya kembali muncul, bagaimana status kepesertaan PKH yang disandang KPM tersebut yang kini menjadi mertua dari Pendamping PKH tersebut? Apakah akan dihapus? Ya jelas tidak.. Karena yang menjadi istri Pendamping PKH tersebut kan anaknya KPM tersebut, kecuali Pendamping PKH menikahi KPM yang berstatus janda maka selayaknya status kepesertaan PKH KPM tersebut dihapus karena kini KPM tersebut sudah memiliki suami yang memiliki pekerjaan sebagai Pendamping PKH.

Terus bagaimana dengan kisah Pendamping PKH yang orang tuanya masuk dalam kepesertaan PKH? Secara aturan di buku Pedoman Umum hal ini tidak di atur alias tidak dilarang, namun harus diingat bahwa ada hal – hal di mana ketika suatu peristiwa terjadi dan di situ belum sempat diatur maka yang digunakan adalah azas moralitas dan etika. 2 hal inilah yang menjadi acuan kita untuk ambil sikap.

Oya, harap diingat bahwa tidak ada larangan bagi orang miskin / KPM untuk tidak menyekolahkan anak – anak mereka sampai menjadi sarjana. Jangan ditanyakan bagaimana para orang tua itu mencari biaya kuliah untuk anaknya, karena demi anak mereka bersedia bertukar nyawa demi anaknya. Bagi sang anak, ketika memang sudah bisa jadi orang sukses upayakan bantu kehidupan orang tuanya.

Yakinlah.. sebanyak apapun yang anak keluarkan untuk orang tuanya, itu masih belum cukup mengganti apa yang sudah orang tua keluarkan untuk anak.

Sumber grup FB 

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Komentar

Category: UMUM

Close