PKH MEWARNAI NEGERI

| Desember 31, 2017 | 0 Comments | Dibaca 23 kali

Program Keluarga Harapan MEWARNAI NEGERI Keberadaan PKH sejak 2007, telah ikut berkontribusi dalam pembangunan. PKH berkomitmen dalam memenuhi capaian SDG’s dan saat ini melanjutkan pencapaian menuju MDG’s. Komitmen Pemerintah dalam membangun bangsa salah satunya diwujudkan dengan keberlanjutan PKH meski telah berganti kepemimpinan.

PKH memberikan bantuan kepada rakyat miskin dalam 2 aspek utama yakni pendidikan dan kesehatan. Pemenuhan nutrisi balita , anak dan ibu hamil. Peningkatan kesehatan keluarga. Peningkatan mutu pendidikan. Semua itu adalah hal paling mendasar dalam memutus rantai kemiskinan. Saat ini PKH juga menambah cakupan dengan pelayanan terhadap lansia dan disabilitas berat.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran semua pihak. Support dari berbagai lembaga seperti GIZ, World Bank, rekanan Bank Himbara, stakeholder Kemensos, Kementrian terkait, Dinas Sosial dan tentunya juga Pendamping.
Begitu beragamnya Indonesia, tentu karakteristik pendampingan tidak bisa disamakan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Masing-masing memiliki keunikan dan keunggulan. Pendamping di berbagai wilayah di negeri ini, berjuang dengan kemampuan sesuai kondisi wilayah.




Di Pulau Borneo, Kalimantan, para Pendamping berjuang dengan beratnya medan menuju desa dampingan. Melewati tanah berlumpur dan jalan yang belum beraspal. Tak jarang jalan yang dilalui rawan kejahatan. Begitu pula di Sulawesi dan pulau besar lain seperti Sumatera. Pendamping harus rela bermalam di rumah warga desa tujuan, bahkan bermalam di tengah hutan. Karena tidak memungkinkan untuk perjalanan pulang pergi ditempuh dalam sehari.

Pulau Maluku juga memiliki cerita heroik lainnya. Pendamping berjuang dengan kondisi wilayah yang hanya bisa ditempuh dengan perjalanan laut memakai kapal. Hal ini bertambah sulit saat layanan listrik begitu terbatas di wilayah Tual, hanya nyala beberapa jam dalam sehari. Itupun tidak semua wilayah teraliri listrik. Di beberapa desa, bahkan tidak ada layanan listrik sama sekali. Bagi warga yang memiliki ekonomi mencukupi, bisa membeli genset untuk penerangan. Tapi tentu jumlah warga yang mampu memiliki genset tidaklah banyak.
Dari Pulau paling timur Indonesia, Papua, kisah pendampingan PKH juga begitu menarik. Masih banyak wilayah yang tidak bisa terjangkau dengan jalur darat. Satu-satunya pilihan adalah dengan moda transportasi udara, menggunakan pesawat. Topografi wilayah yang sulit tidak menyurutkan Pendamping dalam melaksanakan tugasnya.

Pulau cantik Sumbawa pun menorehkan kisah yang tak kalah cantiknya. Jarak antara pulau utama menuju salah satu daerah dampingan yakni Labuan Aji sekitar 101 KM. Sebuah jarak yang tentu tidak bisa masuk kategori dekat. Jauh. Wilayah ini hanya bisa dijangkau dengan mengunakan kapal. Perjalanan mengunakan transportasi laut bergantung pada kondisi cuaca. Hal ini sangat dipahami oleh para Pendamping di berbagai pulau kecil lainnya di Indonesia. Pendamping harus sangat berhati-hati karena nyawa sebagai taruhannya.

Di pedalaman Banten, kisah pendampingan inspiratif lain membuktikan bahwa mendampingi KPM bukanlah hal yang mudah. Pendampingan di Suku Baduy, Desa Kanekes, sebuah wilayah terpencil di Banten, membutuhkan strategi dan usaha ekstra. Kultur Suku Baduy yang masih memegang tradisi, tentu sudah begitu masyhur ke seantero nusantara. Hal ini pun telah terdokumentasi secara apik oleh seorang fotografer nasional, Don Hasman, sejak tahun 70an. Suku Baduy tidak mudah terpengaruh dunia luar. Tradisi leluhur memantapkan mereka untuk tidak tergerus oleh kemajuan teknologi. Kondisi inilah yang harus dihadapi oleh Pendamping saat akan running pertama kali PKH di wilayah ini. Butuh waktu berbulan-bulan untuk pendekatan kepada pimpinan adat. Hal yang sama yang dilakukan oleh fotografer Don Hasman saat akan membuat foto dokumentasi Suku Baduy. Hingga pada akhirnya PKH mampu diterima oleh masyarakat di wilayah ini. Tak berhenti sampai di sini, kenyataannya anggota Suku ini menolak saat proses pencairan berganti menggunakan kartu Himbara. Lagi dan lagi, Pendamping berjuang dengan kearifan dalam menghadapi tantangan semacam ini. Pun demikian, pendampingan di Suku-Suku lain di Indonesia juga memiliki keunikan tersendiri.

Pendampingan masyarakat melalui PKH, telah melahirkan program pemberdayaan yang memberi manfaat. Telah lahir KUBE, wirausaha sosial, bank sampah, sekolah dan pendampingan gratis, gerakan sedekah, dan berbagai kegiatan, yang semuanya melibatkan penerima manfaat PKH. Tentu langkah kecil ini hanya bisa terwujud dengan adanya komitmen semua pihak.

Di luar sana, masih banyak kisah pendampingan yang tidak terpublikasi di ruang publik.Tidak terdengar gaungnya, namun tetap berkarya dan berkontribusi. Kisah-kisah yang selama 10 tahun ini, bersama PKH, telah mewarnai negeri. Kisah dari pinggiran Sungai Kapuas, Sungai Batanghari, Sungai Musi, Danau Toba. Kisah dari lereng pegunungan Jaya Wijaya, Leuser, Gunung Merapi. Dan seluruh wilayah di negeri ini dari Sabang sampai Merauke.

Pendampingan membutuhkan perjuangan dan bukti nyata. Pendampingan adalah tentang keikhlasan. Dengannya, semua usaha itu mampu menjadikan kebermanfaatan dalam pembangunan bangsa.

 

oleh ANI SULARSIH, S.KOM.I SDM pendamping PKH Sukoharjo Jawa tengah

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Komentar

Category: PKH Inspiration

Close

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

No thanks. I don't want.