Program Keluarga Harapan: Kisah Meraih Harapan

Jakarta (20/11/2017) – Tak terasa perjalanan Program Keluarga Harapan (PKH) memasuki usianya yang ke-10 tahun, usia yang tidak muda lagi dalam pelaksanaan sebuah program pengentasan kemiskinan yang semakin mapam di negeri ini. Banyak perubahan yang terjadi selama perjalanannya dari perspektif kebijakan, syarat, jumlah bantuan dan perubahan perilaku. Sehingga, Pemerintah sampai dengan saat ini mengklaim PKH dinilai sangat efektif mengatasi kemiskinan dan ketimpangan di Indonesia.

PKH merupakan program pemerintah untuk memberikan bantuan sosial secara bersyarat kepada keluarga miskin yang ditetapkan sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH yang bertujuan untuk meningkatkan taraf  hidup KPM melalui akses layanan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial, mengurangi beban pengeluaran dan meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan rentan, menciptakan perubahan perilaku dan kemandirian KPM dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan serta kesejahteraan sosial dan mengurangi kemiskinan dan kesenjangan.

perkembangannya, banyak inovasi serta gagasan-gagasan baru terkait PKH. Dan yang paling “spektakuler” adalah merubah sistem penyaluran bantuan sosial PKH dari tunai ke non tunai. Sistem yang menjadi sebuah karya yang dikembangkan Kementerian Sosial dengan bekerjasama dengan Himpunan Bank Negara (Himbara) dengan menggunakan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang merupakan sebuah sarana untuk menyalurkan bantuan sosial dan subsidi pemerintah. KKS juga mempunyai fungsi ganda yaitu menjadi Tabungan dan Dompet (e-wallet).




Inovasi sistem non tunai ini pun di kembangkan menjadi sebuah mahakarya yang sangat  inovatif, dengan menyiapkan penyaluran bantuan non tunai dengan menggunakan mesin “EDC Offline”.  Mesin “EDC Offline” ini akan menyasar KPM yang berada di wilayah Indonesia yang “remote area” untuk memastikan KPM PKH di daerah sangat sulit pun dapat dijangkau.

Selain itu, kesuksesan pelaksanaan PKH selama ini juga takkan bisa dilepaskan dari semangat juang  pendamping PKH yang merupakan ujung tombak pelaksanaan program dilapangan.

alam yang ekstrem, panas mentari yang terik, iklim yang tak menentu, tempat tinggal KPM yang tersebar, tak membuat semangat pendamping PKH patah arang untuk melaksanakan tugas pekerjaannya. Jiwa sosial dalam diri pendamping terpatri secara natural seiring berjalannya waktu.

Pendamping PKH harus dapat melakukan  kegiatan yang memfasilitasi, memediasi dan mengadvokasi KPM nya. Sebuah pengalaman hidup yang yang tak pernah mereka bayangkan dan sebuah pelajaran yang tak pernah mereka terima di dalam institusi pendidikan. Mereka pun memiliki kewajiban untuk menemui KPM dampingannya setiap bulan sekali untuk memberikan kepastian perubahan perilaku KPM.

Dengan segala keterbatasan dan himpitan berbagai masalah seorang pendamping PKH secara pribadi, terkadang harus mampu menafikkan kondisinya untuk tetap bisa terus eksis dalam peran dan fungsinya sebagai seorang pendamping PKH dalam sebuah program yang diharapkan bisa memutus rantai kemiskinan. Sungguh sebuah pengharapan yang sangat luar biasa.

Dalam kenyataan keseharian, seorang pendamping PKH bukanlah sosok figur yang selalu bisa dan serba bisa menafikkan setiap himpitan permasalahan yang ada. Keluarga adalah bagian yang tak terpisahkan, satu sisi keluarga adalah penyemangat dalam melaksanakan rutinitas keseharian sebagai seorang pendamping PKH. Namun, dilain sisi keluarga terkadang menjadi bagian dari kendala yang dengan segala problematikanya menjadi hal yang melemahkan eksistensi dalam pelaksanaan pendampingan. Dalam keadaan ini, sangat diperlukan pemahaman yang kuat atas komitmen untuk terwujudnya targeting jangka panjang pelaksanaan PKH, yaitu adanya perbaikan dan peningkatan kualitas kesehatan dan pendidikan generasi di negri ini.

Seorang pendamping akan selalu dianggap sebagai sosok ideal yang bisa dijadikan panutan oleh KPM yang akan diperhatikan segala apa yang dilakukannya. Oleh karenanya seorang pendamping dituntut harus mempunyai kemampuan yang baik, kebiasaan yang baik, serta sikap yang baik. Tanpa memiliki satu saja dari tiga hal di atas maka bisa dipastikan fungsi sebagai pendamping akan timpang bahkan tidak berfungsi.

Dan kehadiran pendamping PKH akan bisa bertindak sebagai perantara jawaban atas permasalahan kesejahteraan sosial  apabila dalam bekerja pendamping mempunyai good performance, good  habbit, dan good attitude dalam dirinya.

Semua SDM PKH menyadari bahwa bangsa kita adalah bangsa dengan potensi yang sangat besar. Menunggu untuk dibangun oleh orang-orang hebat nan tegar, yang berkomitmen dan selalu mendukung adanya perubahan. Niscaya, Indonesia Jaya yang dicitakan akan segera mendekati kenyataan. (KAS/JSK)

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

Komentar

Tags:

Category: UMUM

Close

Join our list

Masukan Email aktif anda dan dapatkan pemberitahuan lewat email

Selamat Cek email Klik * Konfirmasi Ikuti*

Something went wrong.

No thanks. I don't want.